MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PBL DALAM IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR DI SMK ASSA'ADAH BUNGAH GRESIK
MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS
PESERTA DIDIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN PBL
DALAM IMPLEMENTASI MERDEKA BELAJAR DI smk assa'adah bungah gresik
Jihan Fatmawati, S.Si
Guru dalam pembelajaran abad 21 perlu mengorientasikan pembelajaran untuk menghasilkan peserta didik yang berdaya kreatifitas tinggi dengan menjadikan peserta didik subyek aktif dalam mengkontruksi pengalaman belajar, berlatih berpikir tingkat tinggi (HOTS), dan mengembangkan kebiasaaan mencipta. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru mampu mendorong peserta didik menjadi subyek aktif yang memproduksi pengetahuan dan bukan sekedar menjadi objek pasif yang menjadi konsumen pengetahuan.
Salah satu upaya yang dapat diterapkan pada era merdeka belajar memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam membangun pengetahuannya sendiri. Pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari kejadian, gejala, serta masalah yang berkaitan dengan makhuk hidup Berdasarkan hal tersebut, maka siswa diarahkan untuk memaknai dan memecahkan masalah mengenai gejala-gejala yang berkaitan dengan makhluk hidup, maka dapat diterapkan model pembelajaran problem based learning (PBL). Problem based learning atau pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada. Hal ini merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa pada abad ke-21 yaitu berpikir kritis dalam memecahkan suatu masalah.
Latar belakang penggunaan metode PBL ini, guru kurang percaya diri dalam implementasi pembelajaran inovatif dengan alokasi waktu yang terbatas. Rendahnya motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran inovatif dan desain pembelajaran yang kurang menarik juga menjadi alasan pemilihan model pembelajran PBL di pakai dalam pembelajaran ini.
Pembelajaran menggunakan model PBL sering dianggap model pembelajaran yang membutuhkan banyak waktu, keaktifan peserta didik rendah karena belum terbiasa menggunakan model pembelajaran inovatif. Peserta didik dan guru sudah nyaman dengan metode konvensional yaitu ceramah. Pembelajaran hanya sekedar transfer materi saja tidak ada dialog maupun aktifitas yang berjalan dua arah. Alokasi waktu pembelajaran yang sedikit dan banyaknya materi pembelajaran yang harus di selesaikan menyebabkan Guru cenderung menggunakan metode konvensional karena mengejar penyelesaian materi. Berbagai macam model pembelajaran dapat digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat meningkatkan kompetensi siswa.
Tantangan dalam pembelajaran kurang efektifnya dalam memanfaatkan model pembelajaran inovatif yang menyenangkan karena membutuhkan waktu yang lebih panjang. Peserta didik yang pasif dalam implementasi pembelajaran inovatif karena rendahnya motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran inovatif dan desain pembelajarannya kurang menarik. Langkah yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan tersebut Guru harus memilih metode pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan karakteristik materi dan peserta didik. Management waktu persiapan maupun pelaksanaan pembelajaran. Disiplin waktu dalam pelaksanaan sehingga pembelajaran bisa selesai sesuai waktu yang direncanakan.
Pembelajaran dengan model PBL yang saya lakukan dikombinasikan dengan metode fliped learning peserta didik bisa mempelajari materi dirumah sebelum mengikuti pembelajaran di sekolah. Guru membagikan bahan ajar terlebih dahulu agar peserta didik bisa mempelajari materi dan punya gambaran mengenai materi yang akan dipelajari. Peserta didik dan guru terlibat dalam strategi pembelajaran ini. Sarana prasarana yang mendukung pembelajaran, kesiapan peserta didik dalam implementasi pembelajaran inovatif, kesiapan Guru dalam menyelengarakan pembelajaran dengan menyusun strategi pembelajaran yang menarik dan menyenangkan juga sangat mempengaruhi efektifitas pembelajaran ini.
Metode PBL dipilih dalam Materi transpor membran. Peserta didik diberikan permasalahan yang berhubungan dengan transpor membran dalam kehidupan sehari hari. Diberikan demontrasi proses difusi dan osmosis sehingga mereka mempunyai gambaran tentang proses tersebut kemudian bisa memecahkan masalah yang diberikan dalam setiap kelompok. Hal ini sesuai dengan sintak dalam model pembelajaran PBL, yaitu (1) orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisasi siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individual dan kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah (Trianto dalam Prasetyanti, dkk, 2016) Langkah tersebut dikombinasikan dengan dengan model fliped learning diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Biologi. Kombinasi model pembelajaran ini akan menjadi alternatif yang dapat digunakan guru dalam mengembangkan dan menginovasikan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
PBL merupakan pembelajaran yang memberikan permasalahan kepada siswa dan siswa dituntut dapat menyelesaikan dan memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Hadi & Rahmantika (2016) Ciri-ciri pembelajaran PBL yaitu berfokus pada interdisiplin, penyelidikan otentik, menghasilkan karya nyata yang biasanya berupa laporan, serta kolaborasi Nur (Shofiyah, 2018). Model pembelajaran ini dapat digunakan oleh guru untuk membuat siswa berpikir kritis dalam memecahkan permasalahan yang ada. Retnowati, dkk, (2018) juga menyatakan bahwa PBL dapat meningkatkan kognitif siswa dalam pemecahan masalah. Dapat disimpulkan bahwa PBL dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berpikir kritis sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa yang meningkat. Penerapan model PBL ini disesuaikan dengan fasilitas yang telah dimiliki dan karakteristik siswa.
Peserta didik dimotivasi untuk berprikir kritis dalam memecahkan permasalahan, berkolaborasi dalam kelompok dan meningkatkan kemampuan komunikasi dalam diskusi dan presentasi. Implementasi model PBL dalam pembelajaran sangat efektif dalam meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran. Peserta didik bisa berpikir kritis membangun pengetahuannya sendiri. Tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan yang menerima transfer dari guru. Peserta didik sangat antusis mengikuti pembelajaran, termotivasi, menjadi aktif dan kreatif. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Diah & Riyanto, (2016) bahwa kompetensi berpikir kritis, keterampilan pemecahan masalah, komunikasi dan teknologi, serta pembelajaran kontekstual sangat diperlukan pada abad ke-21.
Guru lain yang ikut mengobservasi pembelajaran tertarik untuk ikut menerapkan metode ini. Karena bisa meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Faktor yang menyebabkan keberhasilan ini karena metode yang digunakan menarik dan menyenangkan bagi siswa. Model PBL ini sangat cocok digunakan dalam implementasi kurikulum merdeka dimana peserta didik menjadi pusatnya (student center) yang sesuai dengan kompetensi abad 21 yaitu 4C. critical thinking, kreatif, comunication, colaboration
DAFTAR PUSTAKA
Diah, & Riyanto. (2016). Problem-Based Learning Model In Biology Education Courses To Develop Inquiry Teaching Competency Of Preservice Teachers. Cakrawala Pendidikan, 35(1), 47–57.
Hadi, & Rahmantika. (2016). Penerapan Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Profesi Pendidikan Dasar, 3(2), 84–91.
Prasetyanti, & Dkk. (2016). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Proses Berpikir Kognitif Siswa Kelas XI Mipa-1 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2015/2016. Jurnal Inkuri, 5(2), 1–7.
Retnowati, & Dkk. (2018). Mathematics Problem Solving Skill Acquisition: Learning By Problem Posing Or By Problem Solving. Cakrawala Pendidikan, 37(1), 1–10.
Shofiyah, F. (2018). Model Problem Based Learning (PBL) dalam Melatih Scientific Reasoning Siswa. Jurnal Penelitian Pendidikan IPA, 3(1), 33–38.